Serpihan Memori
BAB 1
Halaman Rumah Dan Waktu Yang Pernah Utuh
Rumah itu tidak besar, tidak pula istimewa. Dindingnya dicat warna krem yang mulai pudar di beberapa sudut, atapnya berderit saat hujan turun terlalu deras. Namun bagi Aira Safina, rumah itu pernah menjadi seluruh dunia.
Setiap pagi, halaman kecil di depan rumah selalu lebih dulu terbangun. Matahari menyusup di antara celah pohon jambu yang tumbuh miring ke kanan, seolah ingin ikut mengintip ke dalam rumah. Tanahnya tidak sepenuhnya rata. Ada bagian yang lebih tinggi, bekas galian lama, dan di situlah Aira kecil biasa duduk, bersila, dengan batu-batu kecil tersusun rapi di hadapannya.
Ia menyukai keteraturan sejak dini, meski belum paham mengapa. Batu-batu itu ia susun menjadi bentuk rumah: yang besar sebagai pondasi, yang kecil sebagai dinding, dan satu batu pipih sebagai atap. Ia melakukannya dengan serius, seperti arsitek kecil yang sedang merancang masa depan.
"Aira, jangan lupa cuci tangan sebelum sarapan," suara ibunya terdengar dari dapur.
"Iya, Bu," jawab Aira cepat, tanpa mengalihkan pandangan dari susunannya.
Di ambang pintu, Alya Nadzira berdiri dengan tas sekolah yang sudah tergantung di bahu. Usianya terpaut empat tahun dari Aira, cukup untuk membuatnya merasa bertanggung jawab, meski belum tahu bagaimana caranya. Ia memperhatikan adiknya dari jauh, dengan cara yang tidak banyak bicara.
"Kamu bikin apa sih dari tadi?" tanyanya akhirnya.
"Rumah," jawab Aira singkat.
"Buat siapa?"
"Buat semua orang. Biar nggak rebutan."
Alya terdiam sejenak. Ia tidak menertawakan jawaban itu, tidak pula menanggapi berlebihan. Ia hanya mengangguk pelan, lalu duduk di samping Aira. Dari saku celananya, ia mengeluarkan satu batu kecil dan meletakkannya di sisi susunan itu.
"Ini jendelanya," katanya.
Aira menoleh dan tersenyum. Senyum yang jujur, yang tidak dibuat-buat.
Ayah muncul dari dalam rumah, kemejanya belum sepenuhnya rapi. Ia baru saja selesai merapikan sepatu kerjanya. Melihat kedua anaknya duduk berdampingan, ia berhenti sejenak.
"Pagi-pagi sudah bangun rumah," katanya sambil tersenyum.
Aira mendongak. "Kalau rumahnya rapi, orang-orangnya nggak takut, Yah."
Kalimat itu sederhana, keluar begitu saja, tanpa maksud yang dalam. Namun ayah menangkapnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar ucapan anak kecil. Ia mengangguk pelan, lalu mengacak rambut Aira dengan lembut.
"Kamu itu aneh," katanya. "Tapi Ayah suka."
Aira tertawa kecil. Ia tidak tahu apa arti kata aneh, tetapi ia tahu nada suara ayahnya hangat.
Di dapur, ibu menyiapkan sarapan dengan gerakan yang tenang. Ia tidak banyak bicara di pagi hari. Baginya, pagi adalah waktu untuk merapikan hati sebelum menghadapi dunia. Ia menata piring, menuang teh hangat, dan sesekali melirik ke arah jendela, memastikan anak-anaknya masih di halaman.
"Masuk, nanti telat," katanya.
Mereka duduk di meja makan yang sederhana. Tidak ada percakapan panjang. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring, aroma nasi hangat, dan doa singkat yang selalu dibaca ibu dengan suara pelan. Aira mengikuti doa itu dengan caranya sendiri—menangkupkan tangan kecilnya, menutup mata, meski belum sepenuhnya mengerti maknanya.
Namun rasa tenang itu nyata. Ia merasakannya, meski belum mampu menamainya.
Hari-hari Aira kecil berjalan dalam pola yang hampir sama. Pagi diisi dengan sekolah atau bermain di halaman, siang dengan tidur sebentar, sore dengan belajar ditemani ibu, dan malam dengan cerita ayah sebelum tidur. Dunia terasa stabil, seolah tidak akan berubah.
Di sekolah dasar, Aira dikenal sebagai anak yang pendiam tetapi cermat. Ia tidak banyak bertanya di kelas, namun hampir selalu menjawab dengan tepat ketika ditunjuk guru. Buku-bukunya rapi, tulisannya kecil dan teratur.
"Aira, kamu mau jadi apa nanti?" tanya Bu Rina, guru kelasnya, suatu hari.
Aira berpikir sejenak. Ia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.
"Mau sekolah terus," jawabnya jujur.
Beberapa teman tertawa kecil, tetapi Bu Rina tersenyum.
"Itu jawaban yang bagus," katanya. "Sekolah itu jembatan."
Aira tidak tahu jembatan ke mana, tetapi ia menyukai kata itu.
Setiap kali pembagian rapor, nama Aira selalu berada di urutan pertama. Ibunya tidak pernah bertepuk tangan berlebihan. Ia hanya memeluk Aira dan berkata, "Terima kasih sudah berusaha."
Ayah akan mengangguk bangga, meski tidak banyak kata. Alya akan menepuk kepala Aira, pura-pura sebal, tetapi matanya berbinar.
Prestasi tidak pernah menjadi beban di rumah itu. Ia hadir sebagai bagian dari keseharian, bukan tuntutan.
Namun waktu tidak pernah benar-benar diam.
Aira mulai menyadari perubahan kecil ketika ayahnya lebih sering menatap layar ponsel. Senyum yang dulu mudah muncul, kini lebih sering tertahan. Ayah pulang lebih larut, kadang membawa lelah yang tidak bisa dijelaskan.
"Ayah capek?" tanya Aira suatu malam.
Ayah mengangguk. "Sedikit."
Itu jawaban yang cukup saat itu.
Ibu juga berubah. Doanya menjadi lebih panjang, lebih sering terhenti oleh helaan napas. Ia tidak lagi bersenandung saat memasak. Namun ia tetap tersenyum di depan anak-anaknya, seolah ingin memastikan rumah itu tetap utuh.
Aira tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya merasakan sesuatu yang bergeser, seperti batu pondasi yang tidak lagi sejajar.
Suatu sore, ketika hujan turun tanpa peringatan, Aira menemukan ibunya duduk di ruang tamu, ponsel di tangan, mata merah tetapi kering. Tidak ada isak, hanya keheningan yang berat.
"Ibu kenapa?" tanya Aira pelan.
Ibu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nak."
Namun Aira tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya.
Hari-hari setelah itu menjadi asing. Suara di rumah tidak lagi seimbang. Ayah dan ibu berbicara dengan jarak, bukan lagi dengan tawa. Alya lebih sering diam, berdiri di antara keduanya seperti dinding yang belum sempurna.
Aira mulai kembali ke halaman, menyusun batu-batu kecil lebih sering dari biasanya. Kali ini, susunannya tidak selalu rapi. Ada yang jatuh, ada yang retak.
"Apa rumahnya rusak?" tanya Alya suatu hari.
Aira menggeleng. "Belum selesai."
Malam-malam menjadi lebih sunyi. Cerita sebelum tidur berganti dengan doa yang lebih panjang. Aira mendengar ibu berdoa bukan dengan suara, melainkan dengan air mata yang tertahan.
Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, hidupnya sedang mempersiapkan luka pertama.
Namun Babak ini masa kecil yang bahagia akan selalu ia simpan sebagai bukti bahwa kebahagiaan pernah nyata. Bahwa sebelum dunia mengajarkannya tentang kehilangan, ia telah lebih dulu mengenal rasa aman.
Dan kelak, ketika doa-doanya terasa berat, ia akan kembali ke halaman rumah itu, ke batu-batu kecil yang disusun dengan harapan sederhana: agar semua orang punya tempat untuk pulang.




