Senin, 12 Januari 2026

Di Antara Doa Yang Tak Pernah Putus - Bab 1

Bilingual Novel Reader with Audio Narration

Serpihan Memori

BAB 1

Halaman Rumah Dan Waktu Yang Pernah Utuh

Rumah itu tidak besar, tidak pula istimewa. Dindingnya dicat warna krem yang mulai pudar di beberapa sudut, atapnya berderit saat hujan turun terlalu deras. Namun bagi Aira Safina, rumah itu pernah menjadi seluruh dunia.

Setiap pagi, halaman kecil di depan rumah selalu lebih dulu terbangun. Matahari menyusup di antara celah pohon jambu yang tumbuh miring ke kanan, seolah ingin ikut mengintip ke dalam rumah. Tanahnya tidak sepenuhnya rata. Ada bagian yang lebih tinggi, bekas galian lama, dan di situlah Aira kecil biasa duduk, bersila, dengan batu-batu kecil tersusun rapi di hadapannya.

Ia menyukai keteraturan sejak dini, meski belum paham mengapa. Batu-batu itu ia susun menjadi bentuk rumah: yang besar sebagai pondasi, yang kecil sebagai dinding, dan satu batu pipih sebagai atap. Ia melakukannya dengan serius, seperti arsitek kecil yang sedang merancang masa depan.

"Aira, jangan lupa cuci tangan sebelum sarapan," suara ibunya terdengar dari dapur.

"Iya, Bu," jawab Aira cepat, tanpa mengalihkan pandangan dari susunannya.

Di ambang pintu, Alya Nadzira berdiri dengan tas sekolah yang sudah tergantung di bahu. Usianya terpaut empat tahun dari Aira, cukup untuk membuatnya merasa bertanggung jawab, meski belum tahu bagaimana caranya. Ia memperhatikan adiknya dari jauh, dengan cara yang tidak banyak bicara.

"Kamu bikin apa sih dari tadi?" tanyanya akhirnya.

"Rumah," jawab Aira singkat.

"Buat siapa?"

"Buat semua orang. Biar nggak rebutan."

Alya terdiam sejenak. Ia tidak menertawakan jawaban itu, tidak pula menanggapi berlebihan. Ia hanya mengangguk pelan, lalu duduk di samping Aira. Dari saku celananya, ia mengeluarkan satu batu kecil dan meletakkannya di sisi susunan itu.

"Ini jendelanya," katanya.

Aira menoleh dan tersenyum. Senyum yang jujur, yang tidak dibuat-buat.

Ayah muncul dari dalam rumah, kemejanya belum sepenuhnya rapi. Ia baru saja selesai merapikan sepatu kerjanya. Melihat kedua anaknya duduk berdampingan, ia berhenti sejenak.

"Pagi-pagi sudah bangun rumah," katanya sambil tersenyum.

Aira mendongak. "Kalau rumahnya rapi, orang-orangnya nggak takut, Yah."

Kalimat itu sederhana, keluar begitu saja, tanpa maksud yang dalam. Namun ayah menangkapnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar ucapan anak kecil. Ia mengangguk pelan, lalu mengacak rambut Aira dengan lembut.

"Kamu itu aneh," katanya. "Tapi Ayah suka."

Aira tertawa kecil. Ia tidak tahu apa arti kata aneh, tetapi ia tahu nada suara ayahnya hangat.

Di dapur, ibu menyiapkan sarapan dengan gerakan yang tenang. Ia tidak banyak bicara di pagi hari. Baginya, pagi adalah waktu untuk merapikan hati sebelum menghadapi dunia. Ia menata piring, menuang teh hangat, dan sesekali melirik ke arah jendela, memastikan anak-anaknya masih di halaman.

"Masuk, nanti telat," katanya.

Mereka duduk di meja makan yang sederhana. Tidak ada percakapan panjang. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring, aroma nasi hangat, dan doa singkat yang selalu dibaca ibu dengan suara pelan. Aira mengikuti doa itu dengan caranya sendiri—menangkupkan tangan kecilnya, menutup mata, meski belum sepenuhnya mengerti maknanya.

Namun rasa tenang itu nyata. Ia merasakannya, meski belum mampu menamainya.

Hari-hari Aira kecil berjalan dalam pola yang hampir sama. Pagi diisi dengan sekolah atau bermain di halaman, siang dengan tidur sebentar, sore dengan belajar ditemani ibu, dan malam dengan cerita ayah sebelum tidur. Dunia terasa stabil, seolah tidak akan berubah.

Di sekolah dasar, Aira dikenal sebagai anak yang pendiam tetapi cermat. Ia tidak banyak bertanya di kelas, namun hampir selalu menjawab dengan tepat ketika ditunjuk guru. Buku-bukunya rapi, tulisannya kecil dan teratur.

"Aira, kamu mau jadi apa nanti?" tanya Bu Rina, guru kelasnya, suatu hari.

Aira berpikir sejenak. Ia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.

"Mau sekolah terus," jawabnya jujur.

Beberapa teman tertawa kecil, tetapi Bu Rina tersenyum.

"Itu jawaban yang bagus," katanya. "Sekolah itu jembatan."

Aira tidak tahu jembatan ke mana, tetapi ia menyukai kata itu.

Setiap kali pembagian rapor, nama Aira selalu berada di urutan pertama. Ibunya tidak pernah bertepuk tangan berlebihan. Ia hanya memeluk Aira dan berkata, "Terima kasih sudah berusaha."

Ayah akan mengangguk bangga, meski tidak banyak kata. Alya akan menepuk kepala Aira, pura-pura sebal, tetapi matanya berbinar.

Prestasi tidak pernah menjadi beban di rumah itu. Ia hadir sebagai bagian dari keseharian, bukan tuntutan.

Namun waktu tidak pernah benar-benar diam.

Aira mulai menyadari perubahan kecil ketika ayahnya lebih sering menatap layar ponsel. Senyum yang dulu mudah muncul, kini lebih sering tertahan. Ayah pulang lebih larut, kadang membawa lelah yang tidak bisa dijelaskan.

"Ayah capek?" tanya Aira suatu malam.

Ayah mengangguk. "Sedikit."

Itu jawaban yang cukup saat itu.

Ibu juga berubah. Doanya menjadi lebih panjang, lebih sering terhenti oleh helaan napas. Ia tidak lagi bersenandung saat memasak. Namun ia tetap tersenyum di depan anak-anaknya, seolah ingin memastikan rumah itu tetap utuh.

Aira tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya merasakan sesuatu yang bergeser, seperti batu pondasi yang tidak lagi sejajar.

Suatu sore, ketika hujan turun tanpa peringatan, Aira menemukan ibunya duduk di ruang tamu, ponsel di tangan, mata merah tetapi kering. Tidak ada isak, hanya keheningan yang berat.

"Ibu kenapa?" tanya Aira pelan.

Ibu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nak."

Namun Aira tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya.

Hari-hari setelah itu menjadi asing. Suara di rumah tidak lagi seimbang. Ayah dan ibu berbicara dengan jarak, bukan lagi dengan tawa. Alya lebih sering diam, berdiri di antara keduanya seperti dinding yang belum sempurna.

Aira mulai kembali ke halaman, menyusun batu-batu kecil lebih sering dari biasanya. Kali ini, susunannya tidak selalu rapi. Ada yang jatuh, ada yang retak.

"Apa rumahnya rusak?" tanya Alya suatu hari.

Aira menggeleng. "Belum selesai."

Malam-malam menjadi lebih sunyi. Cerita sebelum tidur berganti dengan doa yang lebih panjang. Aira mendengar ibu berdoa bukan dengan suara, melainkan dengan air mata yang tertahan.

Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, hidupnya sedang mempersiapkan luka pertama.

Namun Babak ini masa kecil yang bahagia akan selalu ia simpan sebagai bukti bahwa kebahagiaan pernah nyata. Bahwa sebelum dunia mengajarkannya tentang kehilangan, ia telah lebih dulu mengenal rasa aman.

Dan kelak, ketika doa-doanya terasa berat, ia akan kembali ke halaman rumah itu, ke batu-batu kecil yang disusun dengan harapan sederhana: agar semua orang punya tempat untuk pulang.

Waktu baca: ~10 menit 1.450 kata

Jumat, 09 Januari 2026

Sekilas Novel " Di Antara Doa Yang Tak Pernah Putus "

Di Antara Doa yang Tak Pernah Putus
Religi Drama Kehidupan

DI ANTARA DOA
YANG TAK PERNAH PUTUS

Sebuah Kisah tentang Tumbuh, Luka, dan Harapan

Hangat Reflektif Jujur Optimistis
Coming Soon: 12 Januari 2026

Sinopsis

"Tidak semua doa mengubah keadaan.
Sebagian mengubah orang yang menjalaninya.
Dan di sanalah kisah Aira dimulai."

Aira tumbuh dalam rumah yang pernah terasa utuh—dipenuhi doa-doa pelan, kebiasaan sederhana, dan keyakinan bahwa hidup akan berjalan sebagaimana mestinya. Hingga sebuah peristiwa menggeser segalanya. Rumah itu retak, dan Aira dipaksa belajar memahami kehilangan sebelum benar-benar siap.

Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang cerdas, berprestasi, dan sering dipercaya berada di depan. Namun semakin tinggi langkahnya, semakin sunyi yang ia rasakan. Prestasi tak selalu menenangkan, dan kepercayaan tak selalu berarti diterima. Di antara pujian dan jarak, Aira belajar memimpin tanpa melukai, bertahan tanpa mengeraskan hati.

Di Antara Doa yang Tak Pernah Putus adalah kisah tentang tumbuh di tengah luka yang tak selalu bisa dijelaskan, tentang iman yang tidak berisik, dan tentang harapan yang tidak selalu hadir sebagai jawaban—melainkan sebagai kekuatan untuk melangkah lagi.

✨ Sebuah cerita untuk siapa pun yang pernah jatuh, pernah ragu, dan tetap memilih percaya.

Pendekatan Cerita

Nilai hadir lewat peristiwa, pilihan hidup, dan dialog batin

Bukan Ceramah

Nilai religi mengalir natural lewat pilihan dan perjalanan hidup tokoh, bukan doktrin.

Tempat Pulang

Tuhan hadir sebagai tempat pulang yang hangat, bukan sebagai penghakim yang menakutkan.

Dialog Batin

Kedalaman cerita terungkap lewat refleksi internal dan pertumbuhan karakter.

Daftar Isi

01 Halaman Rumah dan Waktu yang Pernah Utuh
02 Tangga-Tangga Kecil Menuju Puncak
03 Pesan yang Mengubah Arah
04 Seragam Baru, Sunyi yang Sama
05 Angin di Koridor
06 Belajar Berdiri di Tengah Riuh
07 Nama yang Dipanggil, Nama yang Dipertanyakan
08 Retak yang Tidak Terdengar
09 Hal-Hal yang Tidak Lagi Diminta
10 Halus yang Menyakitkan
11 Batas yang Bernama Diri
12 Yang Dipilih, Yang Ditinggalkan
13 Langkah Pertama yang Tidak Takut
14 Rumah yang Dipilih
15 Harapan yang Tidak Tergesa
16 Bertemu Tanpa Mengulang Luka
17 Doa yang Tidak Lagi Meminta
18 Perempuan yang Tetap Percaya

Babeh Opiq 76

Penulis Novel

Designed with EltaFamStudio

Jumat, 07 November 2025

Portofolio_AGP2025_Taufiq Ariefianto

Smagalapak — AGP 2025 | Taufiq Ariefianto (Multi-bahasa & TTS)
Foto Taufiq

SMAGALAPAK: INOVASI GURU INFORMATIKA MEWUJUDKAN WIRAUSAHA DIGITAL DI SMA NEGERI 3 PURWOKERTO

Finalis Anugerah Guru PRIMA Nasional 2025 — Taufiq Ariefianto, S.Pd

A. SITUASI

Situasi Smagalapak - Inovasi Pembelajaran Digital
Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara belajar, 
bekerja, dan berwirausaha. Sekolah kini tidak hanya menjadi tempat transfer 
ilmu, tetapi juga ruang tumbuh kreativitas dan inovasi digital untuk mendukung 
delapan dimensi profil lulusan. Sebagai guru Informatika di SMA Negeri 3 
Purwokerto, saya melihat peluang pembelajaran mendalam yang memadukan 
teknologi, kewirausahaan, dan Kecerdasan Artifisial (KA).  

Dari gagasan tersebut lahirlah Smagalapak, platform e-commerce 
berbasis sekolah yang bisa menjadi Project-Based Learning untuk pembelajaran 
mendalam dan KA untuk menumbuhkan kemampuan berpikir komputasional, 
etika digital, kolaborasi dan berkomunikasi serta kolaborasi lintas mata pelajaran 
menuju delapan dimensi profil lulusan.

B. TANTANGAN

Tantangan Implementasi E-commerce Sekolah
Tantangan yang muncul di antaranya: 
1. Keraguan Awal, dari guru dan murid terhadap ide e-commerce sekolah 
terkait secara teknis maupun mental. 
2. Keterbatasan Sumber Daya, pembuatan situs e-commerce membutuhkan 
kemampuan desain web, pengelolaan data, dan keamanan siber. 
3. Literasi Digital dan Kecerdasan Artifisial (KA), sebagian murid hanya 
sebagai pengguna pasif dan belum sebagai pembuat. 
4. Kolaborasi Internal dan Eksternal, yang menuntut komunikasi intensif 
antar guru, murid, dan masyarakat agar semua pihak berkontribusi aktif. 
Tantangan tersebut menjadi pijakan untuk membangun ekosistem belajar yang 
adaptif dan juga perubahan budaya belajar di sekolah.

C. AKSI

Aksi Kolaboratif Tim Smagalapak
Berikut enam langkah strategis yang dilakukan: 

1. Pembentukan Tim Smagalapak. 
Melibatkan guru lintas mata pelajaran dan murid untuk berperan sebagai 
pengembang web, pembimbing pemasaran digital, dan fasilitator 
komunikasi publik. 

2. Riset dan Pembelajaran Mandiri Berbasis KA. 
Murid mempelajari algoritma sederhana dan menganalisis situs e-commerce 
untuk memahami struktur data dan rekomendasi produk serta Aktivitas 
berpikir komputasional diterapkan melalui proyek dengan HTML.  

3. Workshop dan Kolaborasi dengan Praktisi Industri Digital. 
Mengundang pelaku UMKM dan praktisi KA untuk memberikan pelatihan 
tentang bisnis digital beretika. Murid diajak menggunakan teknologi KA 
secara etis, misalnya menggunakan KA untuk desain promosi dan tetap 
menjaga orisinalitas konten. 

4. Pembuatan dan Peluncuran Website Smagalapak. 
Website www.smagalapak.sman3pwt.sch.id diluncurkan dengan berbagai 
fitur unggah produk, katalog digital, dan transaksi berbasis data sederhana.  

5. Integrasi dengan Pembelajaran Mendalam di Kelas 
Smagalapak diintegrasikan ke beberapa mata pelajaran. Murid melakukan 
refleksi pembelajaran dengan guru sebagai fasilitator. 

6. Refleksi dan Evaluasi Berkelanjutan 
Penilaian dilakukan menggunakan rubrik kemampuan individu dan 
kolaborasi murid.

D. HASIL

Hasil dan Dampak Smagalapak untuk Siswa dan Sekolah
Hasil capaian nyata: 

• Bagi Murid: menjadi kreator inovator digital, meningkatnya literasi digital, 
kemampuan kolaborasi, dan jiwa wirausaha. 

• Bagi Guru: munculnya semangat kolaborasi lintas mata pelajaran dan 
adopsi teknologi KA dalam pembelajaran mendalam untuk analisis data dan 
media pembelajaran digital. 

• Bagi Sekolah: menjadi pelopor inovasi digital berbasis KA di Banyumas. 

• Bagi Masyarakat: Pelaku UMKM lokal terbantu dalam promosi digital. 

Survei 100 responden menunjukkan peningkatan rata-rata 38–39% pada 
indikator literasi digital dan motivasi murid. Sementara motivasi guru untuk 
berinovasi mencapai 87%. Data ini membuktikan bahwa inovasi dapat 
mendorong transformasi budaya belajar di sekolah.

E. REFLEKSI / DAMPAK DIRI

Refleksi Guru dan Dampak Pribadi dari Program Smagalapak
Proyek Smagalapak mengubah cara pandang saya sebagai guru yang 
semula sekadar penyampai materi, bertransformasi menjadi fasilitator yang 
memandu eksplorasi dan refleksi mendalam bagi para murid. Pembelajaran 
mendalam dengan KA membuat murid tidak hanya memahami “bagaimana” 
teknologi bekerja, tetapi juga “mengapa dan untuk apa” mereka 
menggunakannya.

Kolaborasi lintas mapel memperluas jejaring dan memupuk semangat 
gotong royong antar guru. Melalui MGMP Informatika dan workshop guru, 
pengalaman ini saya bagikan agar sekolah lain dapat mereplikasi model 
pembelajarannya. Smagalapak dikembangkan menuju versi 2.0 dengan fitur 
analitik berbasis KA agar murid memahami konsep machine learning secara 
kontekstual.

Tentang Taufiq Ariefianto (Babeh Opiq 76)

Taufiq Ariefianto, S.Pd. — atau yang lebih dikenal di dunia digital dengan nama Babeh Opiq 76 — adalah seorang pendidik, penulis, programmer dan penggerak literasi digital asal Purwokerto, Jawa Tengah. Ia mengabdi sebagai guru Informatika di SMA Negeri 3 Purwokerto, di mana ia juga berperan aktif dalam pengembangan kurikulum, manajemen layanan TIK, serta berbagai program inovasi sekolah berbasis informasi teknologi. Dalam dunia pendidikan, Taufiq dikenal sebagai sosok yang kreatif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Ia menjadi salah satu penggerak implementasi Kurikulum Merdeka di sekolahnya dengan menyusun berbagai modul ajar dan perangkat pembelajaran Informatika, termasuk Modul Ajar Informatika Kelas X – Jaringan Komputer dan Internet serta dokumen Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) yang banyak dijadikan rujukan oleh rekan-rekan sejawat. Melalui perannya sebagai Ketua DPTI (Divisi Pengelolaan Teknologi Informasi) sekolah, ia turut menulis karya ilmiah berjudul Analisis Tingkat Kematangan Manajemen Layanan TI Menggunakan Framework .v3 yang menelaah penerapan manajemen teknologi informasi di lingkungan pendidikan menengah.Di luar ruang kelas, Taufiq menyalurkan gagasan dan inspirasinya melalui blog pribadinya babehopiq76.blogspot.com dan berbagai platform literasi seperti Kompasiana dengan akun “Babeh Opiq 76”. Melalui tulisan-tulisannya, ia membahas tema-tema seputar pendidikan, literasi digital, inovasi pembelajaran, hingga refleksi kehidupan guru. Karya dan Tulisan Pilihan: SMAGALAPAK: Inovasi Guru Informatika Mewujudkan Wirausaha Digital di SMA Negeri 3 Purwokerto, Adiwi­yata: Sebuah Simfoni Alam yang Indah, Menjaga Cahaya Annida, Gerakan Literasi Sekolah di SMA Negeri 3 Purwokerto, Tafsir Intrakurikuler, Ekstrakurikuler, dan Kokurikuler dalam Kurikulum Merdeka. Sebagai Babeh Opiq 76, ia menjadikan blognya bukan hanya wadah menulis, tetapi juga ruang berbagi semangat literasi dan kreativitas bagi siswa, guru, serta pembaca umum. Melalui tulisan dan kegiatan literasinya, ia berharap dapat menumbuhkan budaya berpikir kritis, menulis reflektif, dan berinovasi tanpa batas di dunia pendidikan.

“Teknologi hanyalah alat. Nilai sesungguhnya ada pada manusia yang menggunakannya untuk belajar, berkarya, dan menginspirasi.”
Taufiq Ariefianto (Babeh Opiq 76)

LAMPIRAN PENDUKUNG

1. PORTOFOLIO DIGITAL  
https://smagalapak.sman3pwt.sch.id  
https://pkks.sman3pwt.sch.id  
https://www.kompasiana.com/babehopiq762600  
https://babehopiq76.blogspot.com  
https://eltafamstudio.com  
https://bumdeskaryamajupasirwetan.biz.id  
https://sites.google.com/guru.sma.belajar.id  
https://bumdeskaryamaju.my.canva.site  
https://sman3pwt.sch.id  
https://trivismagz.sman3pwt.sch.id  
https://youtube.com/@76taufiq  

2. TESTIMONI PENGGUNA  
“Pak Taufiq sebagai guru Informatika di SMA Negeri 3 Purwokerto. Beliau membuat inovasi berupa Smagalapak untuk penjualan berbagai macam variasi produk di lingkungan sekitar SMA Negeri 3 Purwokerto. Dan produk ini sudah kami lihat secara langsung.”  
— Prof. Dr. Achmad Buchori, M.Pd — Guru Besar Pendidikan Ilmu Matematika Universitas PGRI Semarang.

“SMA Negeri 3 Purwokerto tidak mau kalah dengan memberikan pembelajaran marketplace kepada para siswa untuk mereka berinteraksi baik sebagai pembeli atau penjual di marketplace bikinan SMA Negeri 3 Purwokerto. Kegiatan ini kami berikan nama Smagalapak yang memiliki arti SMA Negeri 3 Purwokerto dan Lapak (marketplace).”  
— Joko Budi Santosa, S.Pd., M.Pd — Kepala SMA Negeri 3 Purwokerto.

“Kebermanfaatan Smagalapak bagi para siswa salah satunya yaitu bagi kegiatan organisasi yang pembiayaan tidak bisa ter-cover. Dengan adanya Smagalapak memberikan warna serta memberi solusi bagi para siswa untuk menggali biaya kegiatan.”  
— Afif Nur Hidayat, S.Kom — Guru Informatika & Waka Sarpras SMA Negeri 3 Purwokerto.

“Ide ini lahir pada saat anak-anak banyak yang berjualan baik untuk personal maupun organisasi. Platform Smagalapak sangat membutuhkan konsep matematika, jadi banyak lintas disiplin ilmu di Smagalapak, di mana akan dibuat ekosistem antara penjual dan pembeli.”  
— Elya Tati Subarkah, S.Pd — Guru Matematika & Mantan Waka Kurikulum SMA Negeri 3 Purwokerto.

“Smagalapak sangat membantu siswa mengembangkan keterampilan berwirausaha dan memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produk prakarya. Program ini memotivasi siswa menjadi wirausahawan muda kreatif, produknya bisa dikenal hingga luar daerah. Inisiatif ini efektif mendukung pembelajaran kewirausahaan di SMA Negeri 3 Purwokerto.”  
— Eti Wahyu Setianingrum, S.Pd — Guru Kewirausahaan & Pengajar Pembelajaran Mendalam Kabupaten Banyumas.

“Smagalapak merupakan inovasi luar biasa tentang kegiatan jual beli di era sekarang. Apalagi kita menghadapi masyarakat digital dalam perubahan sosial yang menuntut masyarakat untuk bisa beradaptasi dengan kegiatan ekonomi sekarang. Apalagi siswa dan masyarakat sekarang lebih nyaman dengan jual beli cashless.”  
— Nur Khadiantoro, S.Pd — Guru Sosiologi & Waka Kesiswaan SMA Negeri 3 Purwokerto.

“Smagalapak merupakan salah satu wadah bagi para siswa. Dalam Bahasa Indonesia menjadi tempat untuk menyalurkan keterampilan berkomunikasi dan menulis. Di sini juga memperlihatkan integrasi Smagalapak dengan mata pelajaran lain.”  
— Rina Widyastuti, S.Pd — Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 3 Purwokerto.

“Smagalapak merupakan salah satu wadah bagi para siswa untuk mengembangkan jiwa entrepreneur dan berwirausaha serta menjadi sarana edukasi bagi para siswa untuk mengenal e-commerce. Di tengah bonus demografi dan kebiasaan belanja online, ini menjadi langkah cerdas sekolah mengajak siswa aktif di dunia digital.”  
— Yongki Fajar Mustofa, S.Pd — Guru Geografi & Entrepreneur Muda SMA Negeri 3 Purwokerto.

“Smagalapak keren banget! Bisa belanja online, bisa baca berita juga gaes. Kalian jangan lupa ya mampir ke Smagalapak, keren banget, sumpah banyak banget yang bisa kalian lakuin di sini!”  
— Azzahra Kinasih Mulyadi Siwi — Siswa Kelas XI KKO.

“Bagus juga ya, teman-teman udah tahu belum Smagalapak? Ini website bagus banget sih, kita bisa lihat berita, ada kontennya juga dan bisa beli-beli loh, seperti belanja online. Ada gelar karya dan lainnya, wah ini bagus banget sih!”  
— Mellodi Hafsa Davanindra — Siswa Kelas XI F-10.

“Sebagai alumni SMA Negeri 3 Purwokerto dan mahasiswa Universitas Diponegoro, saya kagum bagaimana sekolah menyiapkan siswanya lewat proyek Smagalapak. Di kampus kami belajar bahwa dunia digital dan kecerdasan artifisial adalah masa depan, dan ternyata adik-adik di SMA sudah mulai menerapkannya. Inspiratif banget!”  
— Indira Aninda Rahmi — Alumni SMA Negeri 3 Purwokerto & Mahasiswa Universitas Diponegoro (Ekonomi Pembangunan S1).

“Di kampus, kami belajar tentang digitalisasi dan kecerdasan buatan sebagai masa depan peradaban. Tapi di SMA Negeri 3 Purwokerto, hal itu sudah mulai ditanamkan sejak dini. Smagalapak bukan hanya soal jual beli online, tapi juga bagaimana siswa belajar memahami logika, data, tanggung jawab digital, dan etika teknologi.”  
— Aditya Pratama Putra — Alumni SMA Negeri 3 Purwokerto & Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Pendidikan Matematika S1).

๐ŸŽ™️ NARASI SELURUH TESTIMONI PENGGUNA

Click Play untuk mendengarkan.

3. Data Kuantitatif Dampak Program.
Peningkatan Literasi Digital 38%

Tabel. Peningkatan Literasi Digital Siswa (+38%)

Peningkatan Motivasi Siswa 39%

Grafik. Peningkatan Motivasi Siswa (+38%)

Motivasi Guru untuk Inovasi (+87%)

Motivasi Guru untuk Inovasi (+87%)

Motivasi Guru untuk Berinovasi (+87%)

Grafik. Motivasi Guru untuk Berinovasi (+87%)

4. Integrasi dengan Kurikulum Merdeka dan Delapan Dimensi Profil Lulusan. Keterkaitan dengan Capaian Pembelajaran Informatika a. Berpikir Komputasional: Siswa merancang algoritma dan struktur data untuk fitur Smagalapak. b. Literasi Digital dan KA: Siswa memahami cara kerja KA dan penggunaannya dalam promosi etis. c. Etika Digital: Siswa dilatih menjaga keamanan data pengguna dan tanggung jawab digital.
Delapan Dimensi Profil Lulusan

Tabel. Delapan Dimensi Profil Lulusan

5. Panduan Etika Data Smagalapak. a. Setiap murid wajib menjaga kerahasiaan data pengguna dan tidak menyebarkan informasi pribadi. b. Data pelanggan dan transaksi hanya digunakan untuk tujuan pembelajaran, bukan komersial. c. Konten promosi berbasis KA wajib mencantumkan sumber data dan tidak melanggar hak cipta. d. Guru melakukan audit keamanan data digital murid setiap akhir semester. 6. Rencana Keberlanjutan 2025–2027.
Rencana Keberlanjutan 2025–2027
7. Surat Keputusan Penetapan.
Surat Keputusan Penetapan
8. Kolase Piagam Penghargaan.
Kolase Piagam Penghargaan
9. Kolase Sertifikat Kegiatan.
Kolase Sertifikat Kegiatan

Galeri Dokumentasi & Video

Kegiatan Workshop Kolaborasi

Di Antara Doa Yang Tak Pernah Putus - Bab 1

Bilingual Novel Reader with Audio Narration ...